De Heus sebagai salah satu mitra yang berkontribusi pada program Fish Tech Indonesia

15 November 2020

Indonesia sebagai negara yang memiliki perekonomian terbesar di Asia Tenggara dan berkembang pesat dengan populasi melebih 260 juta jiwa, memiliki potensi sangat besar untuk menjadi pemain terdepan makanan laut secara global. Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia berambisi untuk meningkatkan produksi akuakultur yang berkelanjutan dan menurunkan harga untuk membuat ikan terjangkau bagi sebagian besar penduduk di Indonesia.

Negara Belanda secara internasional dikenal karena posisinya yang terdepan dan inovatif dalam rantai agro-pangan, mengembangkan proses produksi yang produktif dan berkelanjutan serta memberikan nilai lebih. Kebijakan dan prosedur yang diterapkan di Belanda mengenai efisiensi, kualitas makanan, keamana dan kebersihan produk merupakan standar internasional tertinggi. Sektor akuakultur Belanda (sektor swasta lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah) memiliki ambisi untuk berkontribusi pada sektor akuakultur yang lebih kompetitif dan bertanggung jawab di Indonesia.Di saat yang sama, sektor akuakultur Indonesia menawarkan banyak peluang bisnis bagi perusahaan Belanda.

 

Sejak 2019, kemitraan perusahaan Belanda yang aktif di sektor akuakultur bernama Fish Tech Indonesia, yang dipimpin oleh Larive International, telah berinvestasi di Indonesia dengan membangun sistem produksi dan cara budidaya terbaik yang berkelanjutan serta inovatif secara lokal. Fish Tech Indonesia bermitra dengan dan menerima pendanaan bersama dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta.

Di Majalengka (Jawa Barat) telah dibangun kolam budidaya sistem resirkulasi akuakultur (RAS) untuk budidaya ikan lele dengan kapasitas produksi tahunan 50 ton di lokasi CV SUMMARINDO. Selain itu, telah dibangun kolam budidaya sistem resirkulasi akuakultur (RAS) untuk budidaya ikan patin dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 30 Ton di lokasi PT Mitra Cahaya Mina di Tulungagung (Jawa Timur).

 

Kolam tersebut akan bertindak sebagai kolam percontohan dimana para pembudidaya ikan dari kedua wilayah akan diberikan pelatihan mendalam untuk penebaran, pakan, biosekuriti dan pengelolaan kolam. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk meningkatkan hasil dan menerapkan metode budidaya berkelanjutan yang lebih baik (seperti penggunaan air yang lebih sedikit dan pengurangan penggunaan antibiotik). Selain itu, mitra Belanda memiliki tujuan untuk meningkatkan akses ke pasar dengan menjalin kemitraan dengan pengecer dan grosir lokal.

 

Matthias Brienen, Direktur Larive International: “Memperkuat sektor budidaya perikanan Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas domestik dengan cara yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperkenalkan teknologi yang dikembangkan di Belanda (seperti sistem resirkulasi semi-tertutup dan sistem resirkulasi tertutup) yang telah terbukti di pasar negara berkembang lainnya, dikombinasikan dengan saran teknis "

 

Lambert Grijns, Duta Besar Kerajaan Belanda di Indonesia: “Kedutaan Besar Belanda di Indonesia mendorong perusahaan-perusahaan Belanda untuk memperkuat rantai nilai di Indonesia, terutama di wilayah yang berdampak positif langsung pada ketahanan pangan dan dengan bekerja sama dengan pemangku kepentingan lokal. Kami senang bahwa melalui kemitraan publik swasta ini kami dapat berkontribusi pada sektor yang lebih berkelanjutan yang mempekerjakan> 1,6 juta penduduk ”

Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia: “Melihat populasi yang terus bertambah dan daya beli yang meningkat, kami mengharapkan pertumbuhan konsumsi ikan air tawar di Indonesia. Pengenalan sistem budidaya inovatif untuk pembenihan, pembibitan, dan budidaya pembesaran yang dikombinasikan dengan pakan ikan berkualitas tinggi, akan memungkinkan pelanggan kami mempraktikkan metode produksi yang lebih berkelanjutan dan efisien, menghasilkan kinerja teknis yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi ”