Articles

Bekerja Sama Dengan Benur TOP, De Heus Indonesia Bangun Hatchery Ramah Lingkungan

08 Juni 2021
-
3 Menit

Budidaya udang vaname merupakan salah satu sektor akuakultur yang sangat menjanjikan. Hal tersebut dibuktikan dengan melonjaknya produksi udang setiap tahun. Sehingga menyebabkan banyak produsen akuakultur mengembangkan banyak inovasi dalam meningkatkan produksi udang vaname.

Kerjasama De Heus dengan Benur TOP untuk Menghasilkan Benur Unggul dan Melakukan Penanaman Mangrove

Salah satu inovasi dalam meningkatkan budidaya udang vaname adalah menyediakan benur udang yang memiliki kualitas yang baik, terutama dari segi genetika. De Heus Indonesia bekerja sama dengan Benur TOP mulai membangun fasilitas hatchery produksi benur udang vaname unggul secara genetika.

Selain itu, benur tersebut tentunya sudah terdaftar sebagai benur SPF (Specific Pathogen Free). Penyediaan benur unggul dimaksudkan untuk menggenjot produksi udang vaname, sehingga akan mendapatkan keuntungan yang berlebih dengan membudidayakan benur tersebut.

Berlokasi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Hatchery ini juga menerapkan konsep sustainability atau berkelanjutan yaitu selain memproduksi benur kualitas unggul, De Heus dan Benur TOP juga melakukan penanaman mangrove di sekeliling pantai tempat hatchery dibangun,

Pentingnya Menyediakan Benur Udang Vanamei Unggul

Secara umum, benur dapat dikatakan unggul apabila tidak memiliki cacat didalamnya, selain itu benur tidak membawa penyakit, baik penyakit genetic maupun bakteri. Berikut merupakan alasan mengapa benur unggul perlu diproduksi.

1.     Semakin Banyak Penyakit Bermunculan

Udang merupakan hewan avertebrata yang tidak mempunyai sistem imun secara spesifik, kerena itulah udang tidak bisa menghadapi penyakit infeksius, seperti virus atau bakteri, ini menyebabkan udang sangat rentan mati kitika terserang penyakit tersebut.

Terlebih dalam beberapa tahun terakhir banyak sekali penyakit infeksi yang bermunculan. Sebut saja seperti penyakit IMNV (Infectious Myonecrosis Viruses), WSSV (White Spot Syndrome Virus), WFD (White Feces Disease), dan AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease).

Dengan semakin banyaknya penyakit-penyakit tersebut, maka diperlukan benur udang yang unggul, terutama yang tersertifikasi SPF. Benur dengan sertifikasi SPF menjamin bahwa udang tersebut tidak membawa penyakit, terutama penyakit menular.

2.     Keuntungan dari Segi Ekonomis

Benur udang unggul menyediakan kecepatan pertumbuhan yang cepat dan maksimal, sehingga waktu produksi dapat dipangkas. Pemotongan waktu produksi tersebut tentunya dapat memangkas biaya operasional dari produksi udang.

3.     Ukuran Panen Seragam

Dengan membudidayakan udang unggul dari segi genetik, kita mendapatkan hasil panen yang seragam, hal ini akan berdampak positif karena pasar menyukai udang yang memiliki ukuran yang seragam.

 

Produksi Benur Unggul Oleh Benur TOP dan De Heus Indonesia

Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, Benur TOP yang bekerja sama dengan De Heus Indonesia mulai membangun fasilitas hatchery untuk mengakomodir kebutuhan benur udang yang unggul. Berikut merupakan standar indikator benur udang unggul yang diproduksi Benur TOP dan De Heus Indonesia.

1.     SPF (Specific Pathogen Free)

Benur udang dengan sertifikasi SPF menandakan udang tersebut dipastikan telah terbebas dari patogen tertentu, terutama virus dan bakteri. Namun, bukan berarti udang tahan terhadap semua penyakit ketika masa budidaya berlangsung.

SPF digunakan ketika benur udang dijual atau didistribusikan benar-benar tidak mengandung penyakit apapun. Jadi benur udang SPF bukan menjelaskan bahwa benur udang tersebut tahan terhadap segala penyakit.

SPF diaplikasikan untuk mengurangi resiko benur yang membawa penyakit dan menularkan ke organisme lainya yang sehat.

Benur SPF sendiri diproduksi dengan standar biosecurity yang tinggi, jadi benur tersebut menjamin tidak terdapat kontaminasi dalam produksinya.

2.     CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik)

CPIB juga diterapkan dalam budidaya udang. CPIB merupakan prosedur pembenihan yang diakui SNI (Standar Nasional Indonesia). Prosedur CPIB mencakup teknis dalam pembenihan udang hingga telur udang menetas lalu menjadi benur.

Prosedur CPIB juga mencakup standar kondisi lingkungan produksi yang baik, seperti sumber air, tempat, suhu, pengolahan air, dan perlengkapan untuk produksi.

Selain memproduksi benur dengan dua standar tersebut, Benur TOP dengan De Heus juga berusaha menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar tempat operasional dengan menanam mangrove di sekitar area hatchery.

Bagaimana Penerapan Mangrove Disekitar Hatchery Benur TOP?

1.     Konsep Mangrove di Hatchery Benur TOP

Benur TOP selaku salah satu produsen benur udang kualitas unggul bersama De Heus Indonesia bekerja sama membuka lahan baru untuk hatchery di Kota Kendari, Sulawesi Utara. Disamping pembukaan lahan untuk hatchery, keduanya juga berkontribusi untuk menanam mangrove di sekitar wilayah hatchery.

Penanaman bibit mangrove dilakukan disekitar wilayah pantai yang mengelilingi hatchery. Benur TOP dan De Heus Indonesia kurang lebih menyiapkan 2500 bibit pohon mangrove untuk penanaman disekitar wilayah pantai.

Terkait dengan progres penanaman, saat ini sudah ada 1500 benih yang ditanam di sekitar wilayah pantai. Sedangkan sisanya yang berjumlah 1000 akan dibangun menyusul beberapa bulan kemudian.

2.     Tujuan Penanaman Mangrove di Sekitar Hatchery Benur TOP

Penanaman mangrove di sekitar area pembangunan hatchery memiliki banyak tujuan. Pertama, untuk menjaga ekosistem pesisir, terutama saat hatchery mulai dioperasikan.

Kedua, yaitu sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, dimana ekosistem mangrove sendiri berperan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat setempat sehingga dapat mensejahterakan masyarakat disekitar hatchery Benur TOP.

Ketiga, ini merupakan wujud tanggung jawab perusahaan (Benur TOP dan De Heus Indonesia) yaitu melakukan produksi dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Hal tersebut tentunya bertujuan untuk mengaplikasikan konsep ‘‘Ekonomi Biru’’ yang selaras dengan Sustainable Development Goals.