Articles

Target Bobot Badan Ayam Petelur Kunci Mencapai Performa Produksi yang Optimal

Muhammad Hisyam Chofifi

30 Agustus 2026
-
7 menit

Mengapa Bobot Badan Menjadi Indikator Penting pada Ayam Petelur?

Banyak peternak berfokus pada pencapaian produksi telur saat fase layer. Padahal, performa produksi yang optimal sebenarnya dibentuk jauh sebelum ayam mulai bertelur, yaitu selama masa pemeliharaan pullet.

Salah satu indikator terpenting yang perlu dipantau selama fase ini adalah bobot badan (body weight). Bobot badan yang sesuai standar menunjukkan bahwa ayam mendapatkan nutrisi yang cukup, memiliki perkembangan kerangka tubuh yang baik, serta siap memasuki fase produksi secara optimal.

Namun, yang perlu diperhatikan bukan hanya mencapai bobot badan target, tetapi juga menghindari kondisi bobot badan yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi karena keduanya dapat memengaruhi performa produksi.

Hubungan Bobot Badan dengan Perkembangan Organ Reproduksi

Pertumbuhan ayam petelur bukan hanya tentang bertambahnya ukuran tubuh. Selama masa pemeliharaan, terjadi perkembangan berbagai organ penting seperti saluran pencernaan, jaringan otot, kerangka tubuh, hingga sistem reproduksi.

Pencapaian bobot badan sesuai standar membantu memastikan perkembangan ovarium dan oviduk berjalan optimal menjelang awal produksi. Kondisi ini berperan penting dalam mendukung pencapaian puncak produksi telur, ukuran telur yang sesuai target, serta produktivitas yang lebih stabil selama periode bertelur.

Target Bobot Badan pada Fase Kritis Pertumbuhan

Setiap fase pertumbuhan memiliki target yang perlu dicapai untuk mendukung performa produksi di masa depan. Berikut gambaran target bobot badan pada beberapa fase kritis pertumbuhan ayam petelur brown: 

Umur Target Bobot Badan
6 minggu 450-470 g 
12 minggu 1.000-1.100 g
17 minggu 1.400-1.500 g
24 minggu 1.800-1.900 g
30 minggu 1.900-2.000 g


Target dapat bervariasi tergantung strain ayam, program pemeliharaan, dan kondisi lingkungan peternakan. Source: Guide Hy-Line

Namun, yang lebih penting daripada sekadar mencapai angka tertentu adalah memastikan pertumbuhan ayam mengikuti kurva standar secara konsisten sejak awal pemeliharaan. Ketertinggalan pertumbuhan pada fase kritis sering kali berdampak pada performa produksi di kemudian hari.

Selain itu, bobot badan yang terlalu jauh di atas target juga perlu diperhatikan. Pertumbuhan yang berlebihan tidak selalu memberikan keuntungan produksi, karena ayam dengan bobot badan lebih tinggi membutuhkan lebih banyak pakan untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaannya.

Risiko Jika Bobot Badan Terlalu Rendah

Ayam yang memasuki masa produksi dalam kondisi underweight berpotensi mengalami:

•    keterlambatan dewasa kelamin,
•    produksi telur awal yang lebih rendah,
•    ukuran telur kecil,
•    puncak produksi tidak maksimal,
•    persistensi produksi yang lebih pendek.

Selain itu, kemampuan konsumsi pakan sering kali belum maksimal karena kapasitas saluran pencernaan belum berkembang optimal.

Dengan demikian, ayam yang terlalu ringan berisiko belum memiliki kapasitas pertumbuhan dan perkembangan yang cukup untuk mendukung produksi secara optimal.

Risiko Jika Bobot Badan Terlalu Tinggi

Sebaliknya, ayam yang terlalu berat juga tidak selalu menguntungkan.
Overweight dapat menyebabkan:

•    penumpukan lemak berlebih,
•    efisiensi pakan menurun,
•    ukuran telur terlalu besar di awal produksi,
•    meningkatnya risiko gangguan metabolisme dan reproduksi.

Oleh karena itu, tujuan pemeliharaan bukan sekadar membuat ayam tumbuh cepat, melainkan tumbuh sesuai kurva standar strain yang digunakan.

Hal ini juga didukung oleh penelitian Ekinci et al. (2023) pada ayam Lohmann White. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa produksi telur menurun seiring meningkatnya bobot badan ayam. Produksi telur pada kelompok ringan, sedang, dan berat masing-masing sebesar 82,81%, 79,78%, dan 76,65%, dengan korelasi negatif yang sangat kuat antara bobot badan dan produksi telur (r = -0,985).

Menariknya, ayam dengan bobot badan lebih tinggi menghasilkan telur yang lebih berat, tetapi juga mengonsumsi lebih banyak pakan dan memiliki FCR yang lebih tinggi. Artinya, ayam yang lebih berat tidak selalu lebih efisien dalam menghasilkan telur.

Temuan ini menunjukkan bahwa pencapaian bobot badan perlu dikelola secara optimal. Ayam yang terlalu ringan dapat menghadapi keterbatasan dalam pertumbuhan dan kesiapan produksi, sedangkan bobot badan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan konsumsi pakan dan menurunkan efisiensi produksi.

Faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Target Bobot Badan

Nutrisi yang Sesuai Fase

Program pakan harus mengikuti kebutuhan ayam pada setiap fase starter, grower, developer, hingga pre-layer. Pergantian pakan idealnya dilakukan berdasarkan pencapaian bobot badan, bukan hanya umur ayam.

Konsumsi Pakan dan Air

Konsumsi pakan yang baik sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air minum. Penurunan konsumsi air hampir selalu diikuti penurunan konsumsi pakan dan pertumbuhan.

Suhu Lingkungan

Suhu yang terlalu tinggi dapat menekan konsumsi pakan, sedangkan suhu terlalu rendah meningkatkan kebutuhan energi pemeliharaan sehingga pertumbuhan menjadi kurang efisien.

Status Kesehatan

Penyakit subklinis sering menjadi penyebab target bobot badan gagal tercapai meskipun program pakan sudah baik. Karena itu, program biosekuriti dan kesehatan harus dijalankan secara konsisten.

Pentingnya Monitoring Bobot Badan Secara Rutin

Pemantauan bobot badan sebaiknya dilakukan setiap minggu dengan mengambil sampel yang representatif dari berbagai area kandang.

Data hasil penimbangan dapat digunakan untuk:
•    mengevaluasi program nutrisi,
•    mendeteksi gangguan pertumbuhan lebih awal,
•    menentukan waktu pergantian pakan,
•    menentukan kesiapan memasuki fase produksi.

Monitoring rutin memungkinkan tindakan korektif dilakukan sebelum ketertinggalan bobot badan semakin besar.

Selain rata-rata bobot badan, keseragaman flock juga penting diperhatikan agar sebagian besar ayam berkembang mengikuti target yang sama.

 

 

Bobot Badan Optimal: Bukan Sekadar Lebih Berat atau Lebih Ringan

Dari berbagai temuan tersebut, dapat dipahami bahwa hubungan antara bobot badan dan produksi telur bukan sekadar “semakin berat semakin bagus”. Bobot badan yang terlalu rendah dapat membatasi kesiapan ayam untuk memasuki produksi, sementara bobot badan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kebutuhan pakan dan menurunkan efisiensi produksi.

Yang menjadi target adalah bobot badan yang sesuai dengan standar strain, dicapai pada waktu yang tepat, dengan pertumbuhan yang konsisten dan flock yang seragam.

Dengan demikian, konsep yang perlu diterapkan adalah:

Underweight → pertumbuhan dan kesiapan produksi dapat terganggu

Target weight → mendukung perkembangan dan kesiapan produksi yang optimal

Overweight → kebutuhan pakan meningkat dan efisiensi produksi dapat menurun

Jadi, target bobot badan bukan hanya angka yang harus dicapai, tetapi merupakan salah satu indikator untuk memastikan ayam berkembang sesuai potensinya.

Kesimpulan

Target bobot badan ayam petelur merupakan fondasi penting dalam mencapai performa produksi yang optimal. Ayam yang tumbuh sesuai standar memiliki peluang lebih besar untuk mencapai puncak produksi yang tinggi, menghasilkan ukuran telur yang konsisten, serta mempertahankan produktivitas dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Studi terkait menunjukkan bahwa bobot badan yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi. Ayam yang terlalu berat dapat mengonsumsi lebih banyak pakan dan memiliki efisiensi yang lebih rendah, meskipun menghasilkan telur yang lebih berat.

Karena itu, selama fase pemeliharaan pullet, peternak perlu memastikan bahwa program nutrisi, kesehatan, lingkungan kandang, serta monitoring pertumbuhan berjalan dengan baik. Dengan pencapaian bobot badan yang optimal sejak awal, potensi genetik ayam petelur dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung produktivitas dan profitabilitas usaha peternakan.

Tentang penulis

Muhammad Hisyam Chofifi