Dari Refleksi ke Aksi: Menjaga Ketahanan Pangan di Tengah Tantangan Lingkungan
Tahun 2025 merupakan tahun yang menjadi momen refleksi bagi banyak sektor industri di Indonesia, terutama pertanian. Bencana banjir di sebagian pulau Sumatra di penghujung tahun 2025 menggarisbawahi paparan risiko lingkungan dan iklim yang semakin nyata bagi komunitas, sistem pangan, dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Meskipun bencana tidak hanya disebabkan oleh satu hal, kejadian tersebut mengajak kita untuk merenungkan lebih dalam bagaimana aktivitas manusia berinteraksi dengan alam, serta tanggung jawab yang diemban oleh dunia usaha dalam interaksi tersebut.
Pertanian menjadi pusat dalam diskusi ini. Di satu sisi, pertanian bersifat esensial. Ia menyediakan pangan, menopang mata pencaharian, dan mendukung ketahanan pangan nasional. Namun pada saat yang sama, pertanian juga merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap tekanan lingkungan global, termasuk emisi gas rumah kaca dan perubahan tata guna lahan. Mengakui kedua sisi ini merupakan titik awal yang penting untuk mencapai kemajuan yang bermakna.
Jejak Lingkungan Pertanian: Realita yang Kompleks
Secara global, pertanian memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati (WWF, 2024). Beberapa data berikut dapat mengilustrasikan besarnya jejak lingkungan pertanian bagi dunia:

Indonesia tidak terlepas dari jejak lingkungan ini, 12% dari Produk Domestik Bruto Indonesia ditopang oleh aktivitas pertanian (World Bank, 2024), menunjukkan betapa bergantungnya ekonomi dan kehidupan masyarakat Indonesia dengan pertanian. Ketergantungan ini tentu membawa dampak bagi alam.
Mengapa Pertanian Berkelanjutan Bukan Pilihan, Melainkan Sebuah Keharusan
Terlepas dari berbagai dampaknya, pertanian tetap menjadi fondasi kehidupan manusia, baik di indonesia maupun global. Tantangannya bukanlah mengurangi peran pertanian, melainkan memastikan bahwa sektor ini terus berkembang secara produktif dengan dampak lingkungan yang minimal serta produktivitas jangka panjang bagi generasi mendatang.
Maka dari itu, pertanian perlu dilakukan secara lebih bertanggung jawab. Pertanian berkelanjutan memerlukan:
- Peningkatan efisiensi, bukan hanya perluasan lahan
- Penurunan intensitas emisi tanpa mengorbankan produktivitas
- Dukungan kepada petani melalui pengetahuan, teknologi, dan input yang bertanggung jawab.

Bagi perusahaan agribisnis, hal ini berarti mengambil tanggung jawab yang melampaui operasional internal dan bekerja di seluruh rantai nilai untuk mewujudkan praktik yang lebih berkelanjutan.
Komitmen De Heus terhadap Keberlanjutan
Sebagai perusahaan nutrisi hewan global, De Heus meyakini bahwa produksi pangan berkelanjutan dapat dicapai ketika tanggung jawab, inovasi, dan kemitraan jangka panjang berjalan beriringan. Keberlanjutan terintegrasi dalam pendekatan De Heus melalui kerangka Responsible Feeding, yang menjadi panduan kontribusi kami dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
Pendekatan Responsble Feeding dibangun di atas pilar-pilar yang saling terhubung:
- Feed for Food: mendukung kesehatan hewan, produktivitas, dan penggunaan pakan yang efisien.
- Sustainable Supply Chain: pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab dan kolaborasi di sepanjang rantai nilai.
- Fostering Communities: berkontribusi pada mata pencaharian lokal dan pengembangan pengetahuan.
- Thriving Employees: memastikan keselamatan, pengembangan, dan kesejahteraan karyawan De Heus.
Pilar-pilar ini mencerminkan komitmen De Heus untuk menyeimbangkan produksi pangan dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial.
Menerjemahkan Komitmen ke dalam Aksi di Indonesia
Di De Heus Indonesia, prinsip keberlanjutan global diterjemahkan ke dalam aksi nyata di tingkat lokal. Perusahaan bekerja sama secara erat dengan peternak, mitra, dan pemangku kepentingan untuk mendukung produksi ternak dan akuakultur yang bertanggung jawab dan efisien di seluruh Indonesia.

Fokus utama meliputi:
- Solusi pakan yang bertanggung jawab, didukung oleh pendampingan teknis untuk membantu peternak dan pembudidaya meningkatkan produktivitas, efisiensi sumber daya, serta meminimalkan dampak lingkungan
- Standar mutu dan keamanan, termasuk fasilitas produksi bersertifikasi ISO 22000 dan sertifikasi Best Aquaculture Practices (BAP) pada operasi yang relevan
- Produksi lokal dengan orientasi keberlanjutan, dengan mengoptimalkan lokasi dan proses dalam pabrik kami untuk melayani pelanggan secara efisien, serta komitmen untuk menggunakan bahan baku lokal dan ramah lingkungan sejauh memungkinkan.
- Penggunaan bahan baku residu, demi menciptakan ekonomi yang sirkular. Sebagai bagian dari industri pakan, kami memiliki potensi besar untuk menutup siklus dalam sistem pangan dengan memanfaatkan residu atau produk samping dari industri pangan lainnya sebagai bahan baku. Selain memberikan manfaat ekonomi, pendekatan ini juga secara signifikan mengurangi limbah dan emisi dari sektor pangan.
Inisiatif-inisiatif ini mencerminkan pemahaman bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai secara terpisah, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi yang berkelanjutan.
Tanggung Jawab Bersama
Pertanian akan terus memainkan peran penting dalam menyediakan pangan bagi Indonesia dan dunia. Memastikan bahwa peran tersebut dijalankan secara bertanggung jawab merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan petani, pelaku usaha, masyarakat, dan pembuat kebijakan.
Menjelang tahun 2026, komitmen De Heus Indonesia tetap jelas: mendukung sistem pangan yang produktif, tangguh, dan semakin berkelanjutan, baik untuk hari ini maupun bagi generasi yang akan datang.