Articles

Penanaman Hutan Bakau Sebagai Kontribusi Keberlanjutan

30 Mei 2023
-
3 Menit

Hutan bakau memegang peran penting dalam memerangi perubahan iklim. Itulah sebabnya pemerintah Indonesia berkomitmen pada program reboisasi mangrove yang ambisius di tahun yang mendatang. Sebagai bagian dari kegiatan keberlanjutannya, De Heus Indonesia bermitra dengan pemerintah dalam proyek penanaman bakau di Jawa Timur. Dalam proyek ini, rekan-rekan kami menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk mengembangkan proyek mangrove lainnya.

Manfaat mangrove

“Hutan bakau memberikan manfaat yang sangat besar,” menurut Kadi Mey Ismail, Project Management Office & Sustainability Manager, De Heus Indonesia. “Hutan bakau memiliki kapasitas penyerapan karbon tiga sampai lima kali lipat dari hutan tropis dataran tinggi. Mereka melestarikan keanekaragaman hayati, khususnya organisme akuatik di wilayah pesisir. Mereka dapat menyaring air limbah dari budidaya perikanan dan melindungi wilayah pesisir selama kondisi cuaca buruk.” Singkatnya, hal ini baik bagi manusia dan bumi.

“Kami ingin mendukung kegiatan yang mengurangi emisi karbon.”

Kadi Mey Ismail

Project Management Office & Sustainability Manager, Indonesia

Kontribusi pada rehabilitasi mangrove

Indonesia telah memiliki sekitar 3,3 juta hektar hutan bakau yang diperkirakan mengandung 17% stok karbon dunia. Mengingat potensinya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, menjaga keanekaragaman hayati dan manfaat lainnya, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menanam tambahan 600.000 hektar hutan bakau pada tahun 2024 melalui kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan publik dan swasta. Bagi De Heus Indonesia, ini adalah kesempatan untuk berkontribusi pada rehabilitasi mangrove lokal dan perbaikan lingkungan. “Kami ingin mendukung kegiatan yang mengurangi emisi karbon dan menciptakan lebih banyak keanekaragaman hayati yang bermanfaat bagi masyarakat lokal, jadi kami bermitra dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan Indonesia untuk menanam 50 hektar hutan bakau di sepanjang pantai utara Jawa Timur. " ucap Kadi.

Bekerja dengan komunitas lokal

Pada tahun 2022, bersama masyarakat lokal, De Heus Indonesia menanam mangrove seluas 30 hektar di Probolinggo dan 20 hektar lebih jauh ke timur di Situbondo. “Kami berkontribusi kepada masyarakat lokal dengan mempekerjakan masyarakat untuk menanam propagul,” tambah Kadi. Meskipun Kadi dan rekan-rekannya bekerja sama dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan serta pemangku kepentingan lainnya, pohon bakau pada proyek awal mati dalam waktu beberapa bulan. “Proyeknya gagal,” akunya. “Menanam bakau tidaklah mudah dan kami bukan ahlinya. Pohon-pohon kami mati karena kami tidak memilih bibit yang tepat untuk substrat lokal. Ada juga masa kritis dengan wabah parasit dan gelombang tinggi yang tidak kami bayarkan secara memadai. perhatian untuk."

“Sangat penting untuk memilih spesies yang sesuai dengan jenis substrat di wilayah pesisir.”

Kadi Mey Ismail

Project Management Office & Sustainability Manager, Indonesia

Belajar dari kesalahan

Meski mengalami kegagalan, Kadi dan timnya ingin belajar dari kemunduran tersebut. Mereka berkonsultasi dengan para ahli di universitas dan lembaga penelitian setempat untuk menemukan solusi terbaik. “Kami menemukan bahwa setiap spesies mangrove memiliki ciri khasnya masing-masing,” jelasnya. “Jadi sangat penting untuk memilih spesies yang sesuai dengan jenis substrat di wilayah pesisir.

 

Meneliti metode penanaman baru

Berdasarkan pengalaman yang didapat di Jawa Timur dan saran dari para ahli, De Heus Indonesia melakukan proyek penelitian kecil untuk mengidentifikasi metode budidaya yang lebih baik. Tim peneliti membuat sepuluh kotak berbahan bambu di hamparan pantai dan setiap kotak ditanami 600 bibit mangrove. Setelah enam bulan, pohon-pohon tersebut menunjukkan pertumbuhan yang baik. “Pohon-pohon tersebut memiliki tingkat kelangsungan hidup yang jauh lebih baik dibandingkan pohon-pohon pada proyek kami sebelumnya,” kata Kadi. “Kotak bambu melindungi pohon dari gelombang dan serangan parasit. Kepadatan pohon yang tinggi juga memungkinkan mereka untuk melindungi satu sama lain.”

 

Melangkah maju

Belum ada keputusan yang diambil mengenai apakah akan mencoba atau tidak melakukan penanaman kembali di lokasi sebelumnya di Probolinggo dan Situbondo, namun dengan keberhasilan proyek penelitian ini, De Heus Indonesia kini menjajaki kemungkinan untuk menanam hutan bakau sendiri. “Lain kali, target kami akan didasarkan pada jumlah pohon, bukan luas wilayah,” kata Kadi.

“Proyek-proyek ini menunjukkan bahwa De Heus Indonesia menganggap serius keberlanjutan dan berkomitmen terhadap masyarakat lokal,” kata Kadi. “Kami mungkin gagal pada awalnya, namun kami tidak menyerah. Kami telah belajar dari kegagalan kami dan ingin terus menciptakan dampak positif dan mengurangi emisi karbon sehingga kami dapat menjadikan bisnis kami karbon netral.”