Articles

Jenis Ayam Petelur di Indonesia: Ras Komersial dan Lokal

Muhammad Hisyam Chofifi

28 September 2026
-
5 menit
Summary:

Kenali 8 jenis ayam petelur ras dan lokal di Indonesia, lengkap dengan ciri, produktivitas telur, dan pilihan pakan sesuai fase umur.

Jenis Ayam Petelur di Indonesia: Ras Komersial dan Lokal

Ayam petelur merupakan ayam yang dipelihara terutama untuk menghasilkan telur. Namun, tidak semua ayam petelur memiliki karakteristik yang sama.

Ada ayam ras komersial yang dikembangkan khusus untuk menghasilkan telur dalam jumlah tinggi dan efisien, ada pula ayam lokal yang memiliki kemampuan menghasilkan telur sekaligus dapat dimanfaatkan untuk produksi daging.

Di Indonesia, beberapa jenis ayam petelur cukup dikenal oleh peternak maupun masyarakat umum. Masing-masing memiliki karakteristik, produktivitas, ukuran telur, serta kebutuhan pemeliharaan yang berbeda.

Lalu, apa saja jenis ayam petelur yang dikenal di Indonesia? Berikut beberapa di antaranya.

Ayam Petelur Ras Komersial: Pilihan Utama Peternakan Skala Besar

Kelompok ini umumnya digunakan oleh peternak layer skala menengah hingga industri karena produktivitasnya yang tinggi dan sudah teruji secara genetik oleh perusahaan pembibitan (breeder) internasional.

1. Lohmann Brown

Memiliki karakteristik warna bulu cokelat karamel yang dipadukan dengan sedikit bulu putih di sekitar leher dan ujung ekor. Bentuk tubuhnya berukuran sedang, tidak sebesar ayam pedaging, dengan postur yang ramping dan gesit.

Ayam ini mulai bertelur pada usia sekitar 19 minggu, dan mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur berkerabang telur cokelat dalam satu periode produksi, dengan puncak produksi mencapai 94-96%. Lohmann Brown dikembangkan oleh perusahaan Lohmann Tierzucht di Jerman, hasil seleksi dari galur Rhode Island. 

Strain ini kemudian menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia, karena kemampuannya bertahan terhadap perubahan suhu mendadak dan ketahanannya terhadap penyakit, sehingga cocok dipelihara dalam sistem kandang open house.

2. ISA Brown

Memiliki karakteristik fisik yang mirip dengan ayam petelur cokelat lainnya, dengan bulu berwarna cokelat kemerahan dan tubuh berukuran sedang. Bobotnya relatif ringan dibanding ayam dwiguna, sehingga kebutuhan pakannya pun lebih efisien. 

Dalam satu periode produksi, ISA Brown dapat mencapai puncak produksi sekitar 96%, dengan total ratusan butir telur per ekor, dan tingkat persistensi produksi yang tergolong stabil dari awal hingga akhir masa bertelur.

Strain ini berasal dari hasil persilangan komersial di Prancis. Kemampuannya beradaptasi pada berbagai sistem kandang, baik baterai maupun terbuka, membuat ISA Brown banyak dipilih peternak layer di Indonesia yang membutuhkan hasil produksi yang konsisten.


3. Hy-Line Brown

Memiliki ciri fisik ayam petelur cokelat pada umumnya, dengan tubuh sedang dan bulu berwarna cokelat kemerahan yang rapi. Pertumbuhannya mengikuti standar bobot badan per fase umur, mulai dari starter, grower, hingga periode produksi, sehingga peternak dapat memantau perkembangannya secara bertahap. Ayam yang mencapai target bobot pada usia siap bertelur umumnya menunjukkan performa produksi yang lebih optimal.

Hy-Line Brown dikembangkan oleh perusahaan pembibitan Hy-Line International di Amerika Serikat, dan telah digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia, karena manajemen pemeliharaannya yang terstandardisasi dan hasil produksi yang cenderung stabil apabila didukung pakan dan kesehatan yang terjaga.

4. Novogen Brown

Memiliki karakteristik tubuh ayam petelur cokelat komersial pada umumnya, dengan ukuran sedang dan bulu berwarna cokelat merata. Produktivitasnya mengikuti standar performa dari pihak breeder, dengan tingkat produksi yang dipengaruhi kualitas bibit, nutrisi, kesehatan, serta kondisi lingkungan kandang tempat ayam dipelihara. 

Novogen Brown dikembangkan oleh perusahaan Novogen asal Prancis, sebagai salah satu alternatif strain layer cokelat di pasar internasional. Di Indonesia, strain ini dikenal cukup adaptif pada berbagai sistem pemeliharaan, baik kandang baterai maupun kandang terbuka, sehingga menjadi salah satu pilihan bibit. bagi peternak yang ingin membandingkan performa antar strain sebelum menentukan jenis ayam yang akan dikembangkan dalam usahanya

Pilihan Pakan Ayam Petelur De Heus

Memasuki masa bertelur, ayam membutuhkan pakan yang sesuai fasenya. De Heus menyediakan tiga pilihan pakan ayam petelur berbentuk mash: CP 51, Layer B4, dan 295. Semuanya merupakan layer complete feed untuk ayam umur 19-50 minggu, dalam kemasan praktis 50 kg.



Ayam Petelur Lokal: Alternatif Adaptif dan Bernilai Ekonomi

Selain ayam ras, Indonesia memiliki beberapa jenis ayam lokal yang juga potensial sebagai penghasil telur, dengan keunggulan adaptasi terhadap iklim tropis dan sistem pemeliharaan yang lebih sederhana.

5. Ayam Kampung

Memiliki karakteristik fisik yang beragam, mulai dari warna bulu cokelat, hitam, putih, hingga kombinasi belang, dengan tubuh yang lebih kecil dan ramping dibanding ayam ras. Bentuk kakinya cenderung lebih panjang dan kuat, hasil adaptasi dari kebiasaan mencari makan secara bebas di alam terbuka. 

Produktivitas telurnya tergolong rendah dibanding ayam ras komersial, dan sangat dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan yang diterapkan pola ekstensif menghasilkan telur lebih sedikit dibandingkan pola semi-intensif atau intensif. 

Ayam kampung tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia sebagai hasil domestikasi ayam hutan sejak lama, dan tetap memiliki nilai ekonomi karena telur maupun dagingnya memiliki pasar tersendiri, khususnya di segmen kuliner tradisional.

6. Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan)

Memiliki karakteristik fisik yang tidak jauh berbeda dari ayam kampung pada umumnya, dengan variasi warna bulu yang cukup beragam dan tubuh berukuran sedang. Sifat mengeramnya jauh lebih rendah dibanding ayam kampung biasa, hasil dari proses seleksi genetik selama beberapa generasi. 

Ayam ini mulai bertelur pada usia 20-22 minggu, dengan produktivitas sekitar 160-180 butir telur per ekor setiap tahun. Ayam KUB dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, sebagai upaya memperbaiki genetik ayam kampung asli. 

Ketahanannya terhadap penyakit serta kemampuannya beradaptasi dengan pakan sederhana membuat ayam ini cocok dipelihara di berbagai kondisi lingkungan pedesaan di Indonesia.


7. Ayam Arab

Memiliki karakteristik warna bulu silver atau merah, dengan jengger berukuran kecil berwarna merah menyala dan mata berwarna hitam yang dilingkari warna kuning. Dua tipe yang umum dikenal adalah Arab Silver dan Arab Golden, dengan tubuh berukuran relatif kecil dibanding ayam ras petelur komersial.

Sifat mengeramnya sangat rendah, sehingga sebagian besar siklus reproduksinya diarahkan untuk produksi telur, dengan hasil sekitar 190-250 butir per tahun. Ayam Arab sudah lama beradaptasi di Indonesia meski namanya merujuk pada Timur Tengah. Ukuran tubuhnya yang kecil membuat konsumsi pakannya tergolong hemat, sehingga cukup diminati peternak skala rumahan maupun kecil.


8. Ayam Sentul

Memiliki karakteristik warna bulu abu-abu kebiruan yang menjadi ciri khasnya, dengan tubuh berukuran sedang dan postur yang kokoh dibanding ayam kampung biasa. Tergolong ayam dwiguna karena dapat dimanfaatkan sebagai penghasil telur maupun daging. 

Produktivitas telurnya berkisar 85-210 butir per tahun tergantung kondisi pemeliharaan dan populasi, dengan bobot telur rata-rata 46-48 gram per butir. Ayam Sentul berasal dari wilayah Ciamis, Jawa Barat, dan sudah menjadi ayam lokal khas daerah tersebut sejak lama.

Kemampuannya menghasilkan telur sekaligus daging menjadikan ayam ini pilihan yang fleksibel bagi peternak di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Pilihan Konsentrat Ayam Petelur De Heus

Selain pakan lengkap, De Heus juga menyediakan konsentrat ayam petelur untuk peternak yang mencampur pakan sendiri.

Diskusi dengan Ahli De Heus

Ingin menggunakan Pakan/Konsentrat Ayam Petelur De Heus Indonesia?

Tentang penulis

Muhammad Hisyam Chofifi