Articles

Kenali Limbah Organik Tambak Serta Cara Minimalisir untuk Menjaga Lingkungan Perairan

03 November 2021
-
2 Menit

Peningkatan populasi penduduk menyebabkan naiknya permintaan produksi pangan, salah satunya sumber pangan yang diproduksi dengan sistem budidaya, yaitu udang vaname. Hal tersebut menyebabkan permintaan akan kebutuhan udang vaname terus meningkat setiap tahunya di banyak negara, sehingga sistem dan jumlah budidaya udang terus bertambah.

Minimalisir Limbah Tambak Budidaya Agar Tidak Berdampak Negatif Ke Lingkungan Sekitar

Hal tersebut menjadi pemicu berkembang pesatnya teknologi budidaya udang vaname, terutama dengan menggunakan teknologi budidaya superintensif yang membutuhkan banyak pakan. Seperti yang diketahui, pakan merupakan sumber terbesar pencemaran organik dalam sistem akuakultur.

Pencemaran yang mengandung nutrien tinggi tentunya menyebabkan masalah, terutama dalam ekosistem pesisir dikarenakan sifatnya yang toksik dan akan menghambat sistem rantai makanan akuatik. Limbah tersebut disalurkan melalui tambak dalam bentuk padatan tersuspensi, karbon, nitrogen, dan fosfat. Semua kandungan tersebut memberikan dampak signifikan bagi lingkungan pesisir.

Dinamika produksi limbah organik budidaya udang sejatiya menimbulkan isu karena berdampak buruk bagi ekosistem, sehingga diperlukan suatu usaha mengurangi dampak tersebut secara sosial dan lingkungan. Tentunya tanpa mengurangi produktivitas budidaya udang yang sudah berlangsung.

Asal Muasal Limbah Organik

Limbah organik dari tambak udang paling utama berasal dari pakan yang terbuang selama masa budidaya, selain itu terdapat pakan yang tidak dicerna serta sisa metabolisme dalam bentuk feses dan urin yang terus dihasilkan selama periode budidaya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, jumlah pakan yang terbuang dalam budidaya intensif dan superintensif dapat mencapai 24% dari seluruh pakan yang diberikan.

Kejadian ini dikarenakan estimasi jumlah pemberian pakan yang tidak pernah tepat, sehingga banyak pakan terlarut yang terbuang menuju perairan bebas. Senyawa nitrogen (N), amonia (NH3), nitrit (NO2), dan nitrat (NO3) dianggap sebagai kontaminan utama dalam limbah budidaya, selain itu terdapat fosfat dan total bahan organik sebagai limbah yang menyertai limbah utama.

Cara Mengurangi Limbah Budidaya Tambak Udang

1. Sediakan Tempat Pembuangan Khusus Limbah

Pembuangan limbah dilakukan menuju area yang sudah ditentukan dan telah dipastikan bahwa limbah atersebut telah melalui pengolahan dan memenuhi baku mutu limbah sesuai SNI. Pada area pembuangan limbah juga dapat ditambahkan vegetasi berupa tanaman mangrove.

Keberadaan tanaman mangrove sendiri dapat menyerap unsur hara dari limbah budidaya tersebut. Mangrove juga berperan dalam proteksi dan stabilitas pesisir terhadap pasang maupun erosi yang ditimbulkan oleh gelombang air laut.

2. Gunakan Pakan Sesuai Kebutuhan

Cara lain dalam menanggulangi limbah yaitu dengan mengaplikasi pakan yang tidak berlebihan ke dalam tambak. Untuk mengetahui jumlah pakan yang dibutuhkan, dapat menggunakan anco dan sampling kebutuhan pakan berdasarkan umur udang.

Selain mengefisensi penggunaan pakan, tentukan juga kebutuhan protein pakan yang dibutuhkan. Biasanya tambak dengan sistem intensif membutuhkan pakan dengan persentase diatas 32%, sedangkan tambak dengan sistem semi intensif ataupun ekstensif dapat menggunakan pakan dengan persentase protein dibawah 32%.

Persentase pakan dengan protein yang lebih besar dapat menyebabkan sisa pakan mengandung amonia lebih banyak apabila terbuang. Sehingga dapat dengan mudah mencemari perairan, untuk itu penting dilakukan pemilihan protein pakan sesuai dengan sistem budidaya dan jumlah biomasa.

3. Manajemen Sistem dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Keberadaan IPAL dalam budidaya udang memang sangat diperlukan dalam menekan limbah. Saat membangun sistem tambak, usahakan memproyeksi IPAL berdasarkan Peak Load (Beban Puncak).

Penerapan skenario IPAL berdasarkan beban puncak penting dilakukan saat panen. Dimensi kolam IPAL yang diperlukan adalah setara dengan dimensi jumlah kolam saat panen. Contohnya, jika terdapat 10 kolam budidaya, jika saat panen 1 kolam saja per hari, maka lahan IPAL yang diperlukan seluas 1 kolam.

Jika saat panen 2 kolam per hari, maka lahan IPAL yang diperlukan seluas 2 kolam dan berlaku seterusnya. Berdasarkan skenario ini, saat panen limbah padat memiliki waktu tinggal yang cukup untuk mengendap dan tidak ikut terbuang keluar.

Sementara untuk pembuangan air harian sudah pasti terjadi efisiensi yang tinggi dalam menurunkan total suspended solid (TSS), karbon (C), nitrogen (N), fosfat (P), dan lainnya. Hal tersebut dapat terjadi berdasarkan maksimalnya luas kolam (dimensi) dan kecukupan waktu limbah berada ditempat tersebut (retention time).