Articles

SEBERAPA PENTING VAKSINASI BAGI AYAM LAYER? INI PENERAPANNYA!

29 September 2026
-
5 menit
Ringkasan

Pentingnya memahami vaksinasi lengkap dengan waktu dan cara penerapannya, agar ayam terhindar dari serangan penyakit yang mematikan. Beberapa penyakit termasuk kedalam jenis penyakit endemic di Indonesia sehingga pemberian vaksin secara periodic wajib dilakukan untuk mencegah akibat fatal penyebaran penyakit tersebut. Beberapa jenis vaksin ada yang perlu dilakukan pengulangan saat memasuki fase grower sampai dengan layer seperti Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, dan Avian Influenza. Berikut ini jenis-jenis vaksin yang perlu diberikan kepada ayam layer;

  1. Marek Disease
  2. Newcastle Disease
  3. Gumboro
  4. Snot/Coryza
  5. Infectious Bronchitis
  6. Avian Influenza
  7. Egg Drop Syndrome

Beberapa jenis vaksin ada yang perlu dilakukan pengulangan saat memasuki fase grower sampai dengan layer seperti Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, dan Avian Influenza.

Seberapa Penting Vaksinasi Bagi Ayam Layer?

Memahami vaksin lengkap berdasarkan urutan dan cara pemberiannya menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap peternak ayam petelur. Terkadang dalam pelaksanaannya, vaksinasi belum berjalan optimal, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti keterbatasan pengetahuan mengenai jadwal dan teknik vaksinasi yang tepat dan juga beberapa biosekuriti kandang yang kurang baik. Apakah kamu sudah melakukan vaksin dengan baik dan benar? Simak penjelasan berikut

Pemberian vaksin yang sesuai dimulai sejak doc berumur 1 hari, hal ini bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh dan antibody sejak dini hingga masa produksi. Tindakan pengebalan melalui vaksinasi dimaksudkan agar ayam memiliki ketahanan tubuh yang cukup sehingga ayam mampu menahan serangan penyakit dan kesehatan ayam tidak terganggu, termasuk produktivitasnya sehingga dapat menekan kerugian ekonomi dan menjaga produktivitas telur.

Vaksin merupakan produk biologis yang dapat memicu sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit. Vaksin ini dapat berupa bahan biologis, bibit kuman berupa bakteri/virus/parasit/jamur, yang masih hidup (live), dilemahkan (attenuated) ataupun sudah dimatikan (killed). Vaksinasi dapat dilaksanakan melalui suntikan (pada otot, bawah kulit, atau dalam kulit), tetes, melalui air minum, atau melalui spray. Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti jenis vaksin, cara vaksinasi, umur dan kondisi ayam. Oleh sebab itu urutan dan teknik pemberian vaksin harus dipahami oleh seluruh peternak ayam petelur. Berikut ini jadwal vaksinasi dan teknik pemberiannya berdasarkan fase nya sesuai rekomendasi

  Rekomendasi : Balai Besar Penelitian Veteriner, 2019  

Fase Starter

Fase starter adalah masa krusial dan yang paling rentan terserang penyakit karena system kekebalan mereka sedang berkembang dan belum memiliki pertahanan yang memadai. Oleh sebab itu vaksinasi pada masa awla menjadi hal mendasar untuk membentu kekebalan tubuh. Pada fase ini vaksin pertama yang diberikan adalah Marek Disease yaitu ayam umur 1 hari (penetasan) dengan metode injeksi subkutan.

Selanjutnya beberapa hari kemudian dilanjutkan pemberian vaksinasi Newcastle Disease (ND) dan Infectious Bronchitis (IB). Penyakit ND dan IB adalah gangguan pada sistem respirasi, sistem saraf pusat, saluran pencernaan, dan sistem reproduksi dapat menurunkan produksi dan kualitas telur. Pemberian vaksin aktif ND-IB pada umur hari ke-4 umumnya menggunakan metode tetes mata atau tetes hidung. Hal ini memicu Harderian gland (kelenjar air mata ayam) untuk memproduksi antibodi lokal di area mukosa hidung dan mata, yang menjadi pintu masuk utama virus pernapasan.

Setelah beberapa hari dilanjutkan pemberian vaksin IBD atau Gumburo pada umur hari ke-10 dengan metode dicampurkan pada air minum. Gejala klinis dan patologis penyakit ini biasanya muncul pada ayam berusia 19-35 hari. Ayam yang berusia di bawah 19 hari biasanya mengalami infeksi secara subklinis, dikarenakan IBD adalah penyakit imun yang disebabkan oleh reaksi Hipersensitivitas Tipe III. Oleh sebab itu tujuan pemberian vaksin Gumburo untuk meningkatkan imun atau pembentukan kekebalan tubuh pada ayam.

Selanjutnya pada umur 14 hari dilanjutkan pemberian vaksin Avian Influenza (flu burung) pertama, saat memasuki umur ini antibodi bawaan (maternal antibody) dari induk sudah menurun drastis ke tingkat yang tidak lagi protektif. Oleh karena itu, rentang umur 7–14 hari merupakan momentum paling optimal untuk menyuntikkan vaksin guna merangsang sistem imun anak ayam secara aktif sebelum memasuki masa rentan.

Setelah itu memdekati akhir masa starter juga dilakukan pemberian vaksin cacar atau Powl fox pada umur 4 minggu, dan dilakukan pengulangan vaksin (booster) ND memberikan manfaat virus hidup berkembang biak di permukaan mukosa, dapat diberikan melalui aplikasi massal seperti aplikasi air atau aerosol.

Fase Grower

Pada masa grower ini banyak dilakukan pemberian vaksin berulang, sehingga banyak nya perkembangan adanya vaksin kombinasi seperti ND-IB atau ND-AI, dan ND-IB-EDS. Penggunaan vaksin kombinasi sangat menguntungkan bagi peternak karena efisiensi waktu dan lebih ekonomis jika dibandingkan dengan pemberian vaksin tunggal. Keuntungannya karena vaksin kombinasi dapat diberikan sekaligus untuk mencegah lebih dari satu penyakit tergantung kombinasinya sehingga menurunkan tingkat stres pada ayam akibat vaksinasi yang berulang. Pembentukan titer antibodi pada saat vaksinasi ulangan (booster) lebih cepat dibandingkan pada saat vaksinasi pertama, hal ini disebabkan karena terbentuknya sel memori pasca-vaksinasi pertama yang mampu mempercepat respons antibodi di vaksinasi ulangan

Contoh pemberian vaksin berulang (booster) dengan vaksin kombinasi ND-AI diberikan pada ayam berumur 13 minggu dengan metode intramuskuler pada otot paha.  Selanjutnya ada vaksin kombinasi ND-IB-EDS yang diberikan pada ayam berumur 14 minggu menjelang masa bertelur. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan  pembentukan titer antibody protektif terhadap ND ataupun IB dan EDS dan juga menghindari kerugian pada masa produksi akibat EDS yang menyebabkan produksi telur menurun akibat kerabang telur lembek, perubahan bentuk telur, dll.

Selain itu, umur 11 minggu fase grower vaksin Coryza dan Fowl pox diberikan melalui intra muscular dan tusuk sayap. Penyakit Infection Coryza dapat dicegah dengan pemberian vaksin inaktif sekitar umur 8 – 11 minggu dan 3 – 4 minggu sebelum produksi. Pemberian vaksin inaktif sebelum perkiraan timbulnya kasus dan sebelum produksi telur, yang didukung oleh praktek manajemen dan biosecurity yang tepat akan lebih optimal. Sedangkan untuk penyakit cacar (Powl fox) dilakukan revaksinasi sekitar 1-2 bulan dengan cara injeksi intra muscular sebelum bertelur.

Fase Layer

Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease masih menjadi penyakit yang belum bisa diberantas di Indonesia. Newcastle Disease dan Avian Influenza sendiri adalah penyakit endemik di Indonesia. Pada kondisi yang bisa diprediksi penyakit ini akan secara konsisten dan terus menerus ada di wilayah atau kelompok tertentu, salah satu nya karena populasi ayam petelur yang dominan di Indonesia. Pemberian vaksinasi AI umumnya diberikan 3 kali, vaksinasi 1 pada umur 6-8 minggu, vaksinasi ke-2 umur 15 minggu sebelum ayam petelur siap mulai berproduksi, dan vaksinasi ke-3 umur 24- 30 minggu pada saat produksi telur menuju puncak produksi.

Unggas yang dipelihara dalam jangka waktu yang lebih lama seperti ayam petelur, memiliki durasi paparan potensial terhadap virus AI yang lebih lama dibandingkan unggas yang hidup lebih pendek (tipe broiler). Sehingga pemberian vaksin ND IB dan AI perlu diberikan secara berulang sesuai panduan dan oleh orang yang telah terampil melakukan vaksinasi (vaksinator) di bawah pengawasan dokter hewan berwenang

Ketika memasuki masa produksi peternak harus rutin melakukan tes titer antibody setiap bulan terhadap ND, AI, dan IB. Vaksin ulang (booster) terhadap ND, AI, dan IB tidak berdasarkan jadwal tertentu. Prinsipnya vaksin ulang (booster) dilakukan bila titer antibody sudah turun dibawah 70%.

Penerapan vaksin memang dimaksudkan agar ayam memiliki kekebalan tubuh sehingga ayam mampu menahan serangan penyakit dan virus. Meskipun demikian pemberian vaksin saja tidak cukup menjamin ayam tidak terinfeksi. Oleh sebab itu penerapan vaksin diiringin dengan biosekuriti (isolasi, control lalu lintas, dan sanitasi kandang) yang baik akan meningkatkan persentase ayam terjangkit penyakit. Program biosekuriti, termasuk upaya untuk menghilangkan penyakit tertentu, memberantas dan mengendalikan penyakit tertentu, menciptakan kondisi lingkungan yang layak bagi kehidupan ayam.

 

 

 

Artikel ini disusun sebagai referensi umum mengenai program vaksinasi pada ayam layer dan bukan merupakan pedoman baku yang bersifat mutlak. Penerapan jenis, jadwal, dan metode vaksinasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing peternakan, sehingga sangat disarankan untuk mendiskusikannya lebih lanjut dengan dokter hewan atau tenaga veteriner terpercaya pilihan masing-masing sebelum diterapkan di lapangan.

Untuk memastikan program vaksinasi berjalan optimal sesuai kondisi kandang masing-masing, customer dapat berkonsultasi langsung dengan tim Farm Operational Service (FOS) De Heus Indonesia, yang siap memberikan pendampingan teknis seputar vaksinasi maupun kesehatan ayam secara menyeluruh.

 

Informasi lebih lanjut hubungi kontak berikut

Tentang Penulis

Qhonita Sofya